School Visit

School Visit Ini Bikin Siswi SMA Santa Ursula Makin Pede Ngonten!

0
Effion School Visit ke SMA Santa Ursula
Effion School Visit ke SMA Santa Ursula

School Visit ke SMA Santa Ursula: 200 Siswi Kelas 10 Belajar Content Creation Bareng Effion

Program School Visit by Effion Creator School kembali hadir untuk mengenalkan dunia content creation langsung ke lingkungan sekolah. Pada Selasa, 26 Mei 2026, Effion Creator School berkunjung ke SMA Santa Ursula, sebuah SMA khusus putri yang berlokasi di tengah kota Jakarta, tepatnya di Jalan Pos No. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kunjungan kali ini terasa spesial karena pelatihannya diikuti oleh sekitar 200 siswi dari seluruh kelas 10.

 

Effion School Visit ke SMA Santa Ursula

Effion School Visit ke SMA Santa Ursula

Buat sebuah workshop, jumlah peserta sebesar itu tentu bukan hal kecil. Biasanya semakin banyak peserta, tantangannya juga makin besar. Bisa saja suasana jadi kurang kondusif, interaksi menurun, atau siswa hanya duduk mendengarkan tanpa benar-benar terlibat. Tapi di SMA Santa Ursula, suasananya justru terasa hidup. Para siswi ramah, aktif, dan antusias dari awal sampai akhir sesi.

Yang bikin kegiatan ini makin menarik adalah cara mereka merespons pembelajaran. Workshop nggak berjalan satu arah. Para siswi ikut menanggapi, bertanya, mencoba, dan berani mengekspresikan pendapatnya. Rasanya menyenangkan banget melihat energi kreatif anak-anak muda yang bukan cuma ingin tahu, tapi juga mau langsung belajar bagaimana membuat konten yang lebih menarik, rapi, dan punya dampak positif.

School Visit by Effion Creator School Hadir di SMA Santa Ursula

Melalui program School Visit, Effion Creator School ingin membawa pembelajaran content creation lebih dekat dengan siswa. Bukan cuman lewat teori, tapi lewat pengalaman langsung yang bisa mereka rasakan di sekolah. Dunia konten sudah sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, mulai dari TikTok, Instagram, YouTube, sampai berbagai platform digital lain yang sering mereka konsumsi.

Namun, dekat dengan media sosial bukan berarti otomatis paham cara membuat konten yang baik. Banyak siswa tahu tren, sering melihat video kreatif, bahkan punya ide menarik, tapi belum tentu tahu bagaimana menyusun pesan, memilih angle, berbicara di depan kamera, atau membuat konten yang tertata. Di sinilah School Visit menjadi penting, karena siswa diajak melihat content creation sebagai skill, bukan sekadar aktivitas iseng di media sosial.

Baca Juga : Effion Goes To School Hadir di SMK Telkom Jakarta, Dorong Siswa Jadi Content Creator Positif

Workshop Content Creator dengan 200 Peserta yang Super Antusias

Salah satu hal yang paling terasa dari kegiatan ini adalah antusiasme para siswi. Dengan jumlah sekitar 250 peserta, suasana workshop tetap terasa aktif dan interaktif. Mereka nggak hanya mendengarkan materi, tapi juga ikut merespons, bertanya, dan terlibat dalam aktivitas yang diberikan oleh mentor. Energi seperti ini bikin sesi belajar terasa jauh dari kata membosankan.

Creators, ini menarik untuk dilihat. Banyak orang kadang menganggap siswa hanya suka media sosial untuk hiburan. Padahal ketika diberi ruang belajar yang tepat, mereka bisa sangat aktif, penasaran, dan mau mencoba hal baru. Di SMA Santa Ursula, para siswi menunjukkan bahwa content creation bisa menjadi ruang untuk melatih percaya diri, komunikasi, kreativitas, dan keberanian menampilkan ide.

Workshop Content Creator dengan Peserta yang Super Antusias

Workshop Content Creator dengan Peserta yang Super Antusias

Belajar Content Creation Nggak Cuman Tentang Tampil di Kamera

Dalam workshop ini, para siswi belajar bahwa content creation bukan hanya soal tampil cantik di kamera atau mengikuti tren yang lagi ramai. Ada proses berpikir di balik sebuah konten, mulai dari menemukan ide, memahami pesan utama, menyusun alur, memilih shoot angle, sampai membuat konten yang lebih menarik untuk ditonton. Skill seperti ini penting banget, apalagi di era digital saat semua orang bisa membuat konten, tapi tidak semua konten punya arah.

Buat siswi kelas 10, pembelajaran seperti ini bisa menjadi bekal awal yang kuat. Mereka mulai memahami bahwa konten bisa digunakan untuk menyebarkan dampak positif, membagikan cerita, menunjukkan karya, bahkan membangun kepercayaan diri. Jadi, media sosial nggak cuman menjadi tempat scrolling, tapi juga bisa menjadi ruang untuk belajar dan berkarya.

Content Challenge yang Bikin Siswi Makin Terbuka

Salah satu sesi yang paling menarik adalah content challenge. Di sesi ini, para siswi diajak untuk sharing tentang impian mereka dan memilih satu kata untuk mengekspresikan pengalaman mengikuti pelatihan hari itu. Aktivitas seperti ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya punya dampak yang cukup kuat. Siswa belajar mengenali diri, menyampaikan pikiran, dan berani mengekspresikan perasaan mereka di depan orang lain.

Dari sesi tersebut, suasana terasa makin dekat. Para siswi tidak hanya mengikuti workshop sebagai peserta, tapi ikut menjadi bagian dari cerita hari itu. Ada rasa excited, senang, dan bangga karena mereka diberi ruang untuk berbicara. Kadang anak-anak muda hanya butuh satu ruang yang aman untuk menunjukkan bahwa mereka punya mimpi, punya suara, dan punya ide yang layak didengar.

Queena: Belajar Bikin Konten yang Lebih Rapi dan Berdampak Positif

Salah satu siswi bernama Queena membagikan kesannya setelah mengikuti kegiatan ini. Ia merasa bahwa workshop ini tidak hanya membuatnya lebih percaya diri, tapi juga membantunya memahami bagaimana membuat konten yang lebih menarik dan tertata rapi. Buat Queena, konten bukan cuman soal tampil, tapi juga soal menyebarkan dampak positif bersama teman-temannya.

Cerita Queena menunjukkan bahwa content creation bisa membuka cara pandang baru untuk siswa. Mereka mulai melihat bahwa konten bisa menjadi alat untuk berbagi hal baik, bukan sekadar mengejar likes atau views. Ini penting banget, karena generasi muda hari ini hidup di tengah banjir konten. Kalau mereka dibekali cara berpikir yang tepat, mereka bisa menjadi kreator yang lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih punya arah.

Lana: Dari Sekadar Tahu Konten, Jadi Lebih Paham Cara Membuatnya

Lana juga merasakan perubahan setelah mengikuti workshop. Sebelumnya, ia hanya tahu konten dari media sosial atau internet. Setelah mengikuti kegiatan ini, ia belajar banyak hal baru, mulai dari shoot angle, cara menemukan ide konten yang menarik, sampai merasa lebih lancar berbicara di depan kamera karena langsung praktik ngonten bersama mentor.

Pengalaman Lana memperlihatkan bahwa praktik langsung punya peran besar dalam membangun keberanian siswa. Kalau hanya mendengar teori, mungkin materi akan cepat dilupakan. Tapi ketika siswa langsung mencoba, berbicara, membuat konsep, dan merasakan prosesnya sendiri, pembelajaran jadi lebih menempel. Dari yang awalnya hanya penonton konten, mereka mulai memahami proses menjadi creator.

Griselle: Lebih Pede Menunjukkan Karya di Depan Kamera

Griselle juga membagikan bahwa program ini mendorong rasa percaya dirinya. Ia merasa lebih pede di depan kamera, lebih lancar berbicara, dan lebih berani menunjukkan karya karena sudah memahami angle serta trik membuat konten yang menarik. Buat banyak siswa, rasa percaya diri seperti ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Perlu ruang latihan, dukungan, dan pengalaman yang membuat mereka merasa mampu.

Rasa takut tampil di depan kamera itu wajar banget. Ada yang takut salah ngomong, takut diketawain, atau merasa hasilnya belum cukup bagus. Tapi ketika siswa diberi pemahaman dan praktik yang menyenangkan, rasa takut itu bisa pelan-pelan berubah menjadi keberanian. Dan kadang, satu pengalaman workshop bisa menjadi titik awal yang membuat mereka berkata, “Ternyata aku bisa, ya.”

School Visit Bisa Jadi Ruang Re-Charge Semangat Siswa

Salah satu nilai penting dari kegiatan seperti ini adalah memberi suasana belajar yang berbeda dari rutinitas kelas. Siswa mendapat ilmu baru dari mentor di luar sekolah, berinteraksi dengan pendekatan yang lebih santai, dan diajak langsung praktik. Hal seperti ini bisa menjadi momen re-charge yang menyegarkan, terutama untuk siswa yang mungkin sudah terbiasa dengan pola belajar formal setiap hari.

Belajar content creation dengan cara interaktif membuat siswa lebih aktif dan tidak merasa hanya menerima materi. Mereka ikut terlibat, bergerak, berpikir, dan mencoba. Ini yang membuat suasana workshop terasa fun. Ketika pembelajaran punya energi seperti ini, siswa tidak hanya pulang membawa materi, tapi juga membawa rasa semangat baru untuk berkarya.

Workshop Content Creator Gratis? Ini Alasan Effion Datang Langsung ke Sekolah-Sekolah

Workshop Content Creator Gratis? Ini Alasan Effion Datang Langsung ke Sekolah-Sekolah

School Visit by Effion Creator School untuk Sekolah Kamu

Buat sekolah yang ingin mengenalkan dunia content creation kepada siswa, School Visit by Effion Creator School bisa menjadi langkah awal yang seru dan relevan. Program ini menghadirkan Workshop Content Creator GRATIS untuk sekolah, dengan pendekatan yang santai, interaktif, dan mudah dipahami oleh siswa. Kegiatan seperti ini cocok untuk sekolah yang ingin memberi pengalaman belajar baru tanpa harus langsung membuat program besar dari awal.

Melalui School Visit ini, Effion Creator School membantu siswa memahami dasar-dasar content creation, mulai dari menemukan ide, menyusun cerita, memahami platform digital, memilih angle, sampai berani tampil dan berkarya. Program ini juga bisa menjadi pemantik bagi sekolah yang ingin membangun budaya digital kreatif, memperkuat branding sekolah, atau mengembangkan ekstrakurikuler content creator ke depannya.

Dari SMA Santa Ursula, Semangat Kreator Muda Makin Terasa

Kunjungan Effion Creator School ke SMA Santa Ursula menunjukkan bahwa siswa punya energi kreatif yang besar ketika diberi ruang yang tepat. Dengan 250 peserta dari kelas 10, workshop ini menjadi bukti bahwa content creation bisa dipelajari dengan cara yang fun, interaktif, dan tetap bermakna. Para siswi tidak hanya belajar cara membuat konten, tapi juga belajar percaya diri, menyampaikan ide, dan melihat media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan dampak positif.

Creators, mungkin ini saatnya sekolah mulai melihat content creation sebagai bagian dari literasi digital yang penting. Bukan cuman untuk siswa yang ingin jadi influencer, tapi untuk semua siswa yang ingin belajar komunikasi, kreativitas, dan keberanian berekspresi. Karena di masa depan, kemampuan menyampaikan ide dengan jelas bisa menjadi bekal yang sangat berharga.

Dari satu sesi School Visit, bisa muncul banyak hal baik. Ada siswa yang lebih pede, ada yang mulai paham cara membuat konten, ada yang merasa lebih berani berbicara, dan ada yang mulai melihat bahwa karya mereka punya nilai. Dan siapa tahu, dari ruang belajar seperti ini, akan lahir kreator muda yang bukan hanya kreatif, tapi juga membawa dampak positif untuk lingkungan sekitarnya.

Baca Juga : 

Branding Sekolah di Era Digital: Bunda Mulia School Perkuat “Education With Empathy” Lewat Transformasi Strategi Konten

Workshop Content Creator: Program Gratis yang Diam-Diam Naikkan Level Sekolah

Stop Buang Budget Digital Marketing Kalau Tim Kamu Belum Siap

 

SMK Bunda Kandung Ikuti Workshop Content Creator Effion

Previous article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login/Sign up