Creator News

Audiens Cepat Swipe? Video Pendek Jadi Kunci Branding Perusahaan

0
Video Pendek jadi senjata jitu biar konten nggak di swipe
Audiens Cepat Swipe? Video Pendek Jadi Kunci Branding Perusahaan di Era Attention Span Pendek

Sebelum membahas lebih jauh tentang perubahan perilaku audiens dan strategy video pendek untuk perusahaan, ada satu hal penting yang perlu dipahami oleh setiap brand dan perusahaan saat ini: attention span audiens di media sosial semakin pendek.

Attention span adalah lamanya waktu seseorang bisa fokus pada satu konten sebelum akhirnya berpindah ke konten lain. Dalam konteks media sosial, hal ini berarti berapa detik audiens bertahan menonton konten sebelum mereka memutuskan untuk swipe.

Video Pendek jadi senjata jitu biar konten nggak di swipe

Audiens Cepat Swipe? Video Pendek Jadi Kunci Branding Perusahaan di Era Attention Span Pendek

Di sinilah peran video pendek untuk branding perusahaan menjadi sangat krusial. Ketika audiens hanya memberi waktu 2–3 detik untuk menentukan apakah konten layak ditonton atau tidak, brand tidak lagi punya ruang untuk pembuka yang bertele-tele atau terlalu formal.

Audiens hari ini sudah berubah total. Kalau dulu orang masih mau menonton video 5 menit atau membaca caption panjang, sekarang? Belum sampai 3 detik, jari mereka sudah siap swipe. Inilah realita baru yang sedang dihadapi semua perusahaan dan content creator yang ingin memperkuat branding di media sosial.

Dan kabar baiknya, perusahaan yang paham cara kerja attention span dan cara menggunakan video pendek untuk memperkuat branding akan jauh lebih unggul dibanding kompetitornya.

Artikel ini membahas secara lengkap, strategis tentang:

  • Kenapa attention span audiens menurun
  • Kenapa video pendek jadi kunci branding perusahaan
  • Peran storytelling dalam konten singkat
  • Kesalahan umum Perusahaan dalam branding

Attention Span Turun: Masalah Nyata Bagi Brand 

Kalau dulu orang masih rela baca artikel panjang atau tonton video 5 menit, sekarang hampir mustahil. Bukan karena malas, tapi karena terlalu banyak konten yang berseliweran di depan mata.

Audiens saat ini cenderung:

  • cepat bosan
  • cepat mengalihkan perhatian
  • lebih suka konten yang langsung ke inti
  • memilih konten yang terasa dekat dan nyata

Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa orang hanya butuh 2–3 detik untuk memutuskan apakah mereka akan lanjut menonton atau tidak.
Artinya, perusahaan tidak bisa lagi membuka konten dengan kalimat panjang seperti: “Perusahaan kami berdiri sejak…”  atau  “Halo guys!….”
Itu langsung dilewati.

Masalahnya, masih banyak perusahaan yang terjebak dalam pola komunikasi lama:

  • menjelaskan terlalu banyak
  • terlalu formal
  • tidak mengutamakan emosi
  • membuat konten seperti iklan, bukan komunikasi

Kenyataannya, branding bukan lagi tentang siapa paling besar atau paling tua, tapi siapa yang paling cepat dipahami dan mudah diingat.

  • Arus informasi yang terlalu cepat
  • Timeline yang makin penuh dengan konten
  • Munculnya platform berbasis swipe seperti TikTok, Reels, dan Shorts
  • Kebutuhan audiens untuk mendapatkan informasi now, fast, simple

Kalau konten tidak memberikan hook yang jelas, bernilai, dan menarik di detik pertama,  selesai sudah.

Untuk branding perusahaan, ini sangat berdampak besar.
Itulah kenapa perusahaan perlu strategi baru dalam branding: lebih singkat, lebih padat, lebih emosional, dan lebih interaktif.

Tips Rahasia: Gunakan salah satu pemicu di awal video pendek untuk menghentikan scroll seperti Pertanyaan yang langsung “nampol” , Pernyataan yang bikin mikir , Potongan masalah yang sering dialami audiens , Visual yang tidak biasa

Trend Video Pendek di Social Media

Trend Video Pendek di Social Media Instagram, Tiktok, YouTube Short

Kenapa Video Pendek untuk Branding Perusahaan Jadi Strategi Utama Saat Ini?

Video pendek untuk branding perusahaan menjadi solusi paling relevan di era attention span audiens yang semakin pendek. video pendek bukan sekadar tren tapi jawaban atas perubahan cara audiens mengonsumsi konten.

Banyak brand masih salah kaprah. Menganggap video pendek itu cuma soal ikut viral, joget tren, atau konten lucu tanpa arah. Padahal, video pendek adalah format komunikasi paling efisien hari ini.

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mendorong brand untuk:

  • Menyampaikan pesan lebih ringkas
  • Mengedepankan storytelling
  • Tampil lebih autentik

Keunggulan video pendek untuk branding perusahaan:

  • Lebih mudah masuk ke timeline audiens
  • Lebih tinggi engagement rate
  • Lebih cepat membangun brand awareness
  • Lebih dekat dengan keseharian audiens

Dengan strategi yang tepat, video pendek bisa menjadi alat branding yang jauh lebih efektif dibandingkan konten promosi konvensional.

Storytelling: Seni Bercerita di Era Scroll Cepat

Banyak perusahaan bikin video pendek….tapi kok engagement tetap kecil?
Jawabannya sederhana: tidak ada storytelling.

Tanpa storytelling, konten cuma visual. Dengan storytelling, konten jadi pengalaman.

Storytelling membantu:

  • Membangun Koneksi Emosional

Orang terhubung dengan manusia, bukan cuman logo pada produk
Cerita kecil tentang realita kerja, proses di balik produk, atau tantangan yang dialami tim internal membuat brand terasa lebih hidup.

  • Membuat Brand Lebih Mudah Diingat

Fakta bisa hilang. Tapi cerita? Itu menempel di kepala.

Audiens mungkin lupa harga, fitur, atau promo, tapi mereka ingat perasaan yang brand berikan.

  • Menghindari Kesan “Jualan Melulu”

Storytelling adalah cara paling halus untuk menyampaikan value tanpa membuat audiens merasa sedang dibombardir iklan. Storytelling untuk perusahaan tidak harus rumit. Justru semakin sederhana, semakin kuat.

Tipsnya:

  • Cerita pendek, bukan ceramah panjang
  • Tone ngobrol, bukan tone presentasi
  • Fokus pada satu pesan utama
  • Tampilkan momen nyata, bukan skenario berlebihan

Keep it simple.

Keep it human.

And keep it real.

Karena pada akhirnya, konten yang paling berhasil bukan konten yang paling mulus…tapi 

konten yang paling terasa “manusia”. 

Contoh Sederhana :
“Produk kami bisa meningkatkan produktivitas.”

✔️ “Masih sering ngerasa kerjaan numpuk padahal sudah lembur? Nih ada cara simpel biar hidupmu lebih ringan…

Dengan storytelling seperti ini, audiens merasa:

“Oh ini gue banget.”

Dan saat audiens merasa dipahami, mereka akan:

  • Berhenti scroll
  • Nonton sampai selesai
  • Lebih ingat brand

Tips Rahasia : Cara paling efektif storytelling yang membuat audiens bertahan.

Gunakan pola 3 langkah: Mulai dengan masalah yang relatable, Tunda solusi sebentar untuk menjaga penasaran, Tutup dengan insight singkat, bukan hard selling

Kesalahan Umum Perusahaan dalam Video Pendek

Banyak perusahaan sudah rajin membuat konten, mulai dari video pendek, Instagram Reels, sampai TikTok. Tapi setelah diposting, hasilnya tetap sama: engagement kecil, reach stagnan, dan audiens kurang tertarik. Masalahnya bukan karena algoritma, bukan karena kompetitor lebih keren, dan bukan karena “tim kurang kreatif”.

Akar masalahnya biasanya ada di satu hal penting: storytelling.

Sayangnya, ada beberapa kesalahan yang sangat sering dilakukan perusahaan ketika mencoba membangun branding lewat storytelling.

1. Terlalu Formal dan Kaku (Branding Jadi Tidak Humanis)

Banyak konten perusahaan terdengar seperti presentasi, bukan komunikasi. Padahal di era digital marketing sekarang, audiens mencari koneksi, bukan formalitas.

Sosial media adalah ruang yang humanis. Kalau brand ingin membangun hubungan, maka cara bicaranya harus terasa seperti manusia, bukan institusi.

Ini penting untuk branding perusahaan, karena tone voice yang humanis terbukti membuat brand lebih mudah diingat dan dipercaya

2. Tidak ada karakter brand voice (dan ini bahaya)

Banyak brand sebenarnya punya value yang keren, tapi tidak punya “cara bicara” yang jelas.

Kadang video pendek-nya lembut seperti sahabat curhat, besoknya kaku seperti pengumuman pemerintah, lusa sudah salesy kayak brosur.

Akhirnya, audiens bingung: Ini brand sebenarnya mau tampil sebagai siapa sih?”

Padahal tugas brand voice itu simpel:

Bikin brand terasa seperti satu karakter yang konsisten—manusiawi, jujur, dan mudah dikenali.

Ketika brand voice konsisten, audiens merasa seperti mengenal “pribadi” di balik perusahaan. Ini yang bikin konten lebih hangat, bukan sekadar formalitas.

3. Fokus jualan, bukan hubungan manusia

Di era attention span super pendek, audiens sangat sensitif terhadap hard selling.
Kalau di awal video langsung disodori promosi:

99% kemungkinan mereka langsung swipe.

Audiens suka brand yang:

  • memberi insight,
  • membantu mereka paham sesuatu,
  • bikin mereka merasa “ini gue banget,”
  • memberi solusi tanpa menggurui.

Value first. Selling later. Itulah strategi yang membuat konten perusahaan lebih dipercaya.

4. Tim Internal Belum Siap Bikin Konten

ini masalah yang sering disepelekan.

Tim sebenarnya pintar, ahli, dan punya banyak insight bagus. Tapi ketika disuruh tampil di kamera atau bikin video pendek:

  • kaku,
  • bingung mau ngomong apa,
  • takut terlihat tidak profesional,
  • tidak tahu storytelling,
  • tidak tahu cara bikin hook 3 detik pertama.

Padahal konten terbaik justru datang dari tim internal karena mereka yang paling tahu realita perusahaan.

Dengan pelatihan konten yang tepat, tim bisa memahami:

  • cara bikin hook yang mengalahkan attention span,
  • cara membangun storytelling singkat,
  • cara tampil natural di kamera,
  • cara membuat konten tidak terasa “korporat banget”.

Skill content creator bukan lagi bonus.

Sekarang sudah menjadi kebutuhan dasar branding perusahaan.

Pelatihan Content Creator Untuk Brand

Pelatihan Content Creator Untuk Brand

Pelatihan Content Creator : Solusi Branding Video Pendek Perusahaan yang Lebih Sustain

Untuk membangun budaya konten yang kuat, perusahaan butuh lebih dari sekadar ide bagus. Perusahaan perlu tim internal yang benar-benar paham cara membuat video pendek, mengerti storytelling, dan tahu bagaimana cara nyambung dengan audiens di era attention span super pendek ini.

Dan di sinilah banyak perusahaan mulai sadar:

“Kayaknya kita butuh corporate training content creator, deh.”

Iya, memang bisa pakai jasa agency.

Bisa juga sewa influencer terkenal.

Tapi risiko dan biayanya? Lumayan bikin HR dan marketing mikir panjang:

  • Budget harus siap besar
  • Revisi bolak-balik
  • Hasil tidak selalu sesuai vibe atau citra perusahaan
  • Terlalu bergantung pada pihak luar
  • Tidak sustain untuk jangka panjang

Apalagi kalau tujuan perusahaan adalah bikin konten internal yang konsisten, bukan konten viral musiman.

Makanya banyak brand besar mulai shifting: bukan lagi beli konten tapi membangun kemampuan bikin konten.

Melalui training ini, tim belajar:

  • cara membuat video pendek yang menarik
  • teknik storytelling yang natural
  • memahami algoritma dan pola perilaku audiens
  • cara tampil percaya diri di depan kamera
  • cara menyampaikan pesan brand dengan ringan, bukan kaku
  • editing simpel tapi efektif
  • cara produksi konten internal tanpa biaya besar

Hasilnya?

Brand lebih konsisten
Konten lebih cepat diproduksi
Tim lebih percaya diri
Brand voice lebih rapi
Perusahaan lebih mudah bersaing di timeline

Corporate training membantu perusahaan membangun fondasi branding yang kuat, sustain, dan tidak bergantung pada tren sesaat.

Menariknya, Effion punya program yang sangat relevan dengan kebutuhan brand saat ini, yaitu
Corporate Training Content Creator.

Program ini dirancang khusus untuk membantu tim brand, marketing, HR, hingga corporate communication . Yang membedakan, pembelajaran di program ini:

  • Fun & aplikatif (bukan teori doang)
  • 80% praktik langsung
  • Didampingi oleh mentor-mentor profesional yang memang aktif di industri konten & branding

Jadi bukan cuma tahu apa itu video pendek, tapi benar-benar:

“Oh, begini cara brand kami harus bercerita di media sosial.

👉 Untuk konsultasi dan melihat detail programnya, kamu bisa langsung cek di sini:
https://effioncreatorschool.com/creator-corporate/

Adaptasi Itu Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan

Attention span tidak akan kembali panjang. Algoritma tidak akan melambat.
Audiens tidak akan menunggu.

Pertanyaannya sekarang:

👉 Brand kamu mau ikut beradaptasi, atau ditinggalkan pelan-pelan?

Video pendek dan storytelling bukan trik cepat. Ini adalah strategi branding jangka panjang.

Dan brand yang mau belajar, membangun skill internal, serta berani tampil lebih manusiawi akan selalu selangkah lebih depan di media sosial.

Jika brand ingin tumbuh secara berkelanjutan, investasi terbaiknya bukan hanya pada iklan tapi pada pengembangan skill content creator di dalam perusahaan.

Karena pada akhirnya, brand yang paling cepat dipahami akan selalu lebih diingat.

 

Cara Baru Lebih Dekat dengan Publik: Kenapa Humas Lembaga Wajib Melek Konten Digital

Previous article

Pelatihan Content Creator untuk Bisnis: Kunci Menyatukan Business Planning, Branding & Strategic Management

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login/Sign up