Kalau beberapa tahun lalu brand sibuk menunjukkan produk terbaik mereka, sekarang banyak yang mulai menunjukkan orang-orang di balik produk tersebut. Mulai dari aktivitas sehari-hari di kantor, cerita perjalanan karier, sampai momen-momen sederhana yang sebelumnya nggak pernah muncul ke publik. Tren inilah yang membuat EGC atau Employee Generated Content semakin sering digunakan dalam strategi digital marketing modern.

EGC : Employee Generated Content
Menariknya, perubahan ini bukan datang dari brand semata. Audience juga ikut berubah. Kalau dulu orang cukup melihat iklan untuk tertarik pada sebuah brand, sekarang mereka ingin tahu lebih banyak. Mereka penasaran siapa yang bekerja di dalamnya, seperti apa budaya kerjanya, dan bagaimana suasana tim yang menjalankannya setiap hari. Makanya nggak heran kalau konten yang menampilkan sisi manusia sebuah brand sekarang sering mendapatkan respons yang lebih baik dibanding konten promosi yang terlalu rapi.
Apa Itu EGC?
Sederhananya, EGC adalah konten yang dibuat oleh karyawan sebuah perusahaan. Tapi jangan bayangkan seperti press release atau postingan corporate yang formal. Justru kebalikannya. EGC biasanya muncul dalam bentuk yang lebih santai dan personal, mulai dari cerita keseharian di kantor, pengalaman bekerja di perusahaan, insight dari sebuah project, sampai momen-momen receh yang terjadi di balik layar.
Karena yang berbicara adalah karyawan, kontennya terasa lebih natural. Audience tidak merasa sedang melihat iklan, tapi sedang melihat pengalaman seseorang. Dan di situlah kekuatan utamanya. Orang lebih mudah percaya pada manusia dibanding pesan promosi yang terlalu sempurna.
Kenapa EGC Mulai Banyak Dipakai Brand?
Kalau diperhatikan, sekarang makin banyak brand yang berusaha terlihat lebih manusiawi. Bukan berarti mereka meninggalkan branding atau marketing, mereka hanya sadar bahwa pendekatan yang terlalu formal sudah tidak seefektif dulu. Audience sekarang lebih tertarik pada cerita dibanding slogan, lebih tertarik melihat proses dibanding hasil akhir, dan lebih tertarik melihat orang di balik brand dibanding sekadar brand itu sendiri.
Karena itu EGC menjadi cara yang cukup efektif untuk menjembatani jarak antara perusahaan dan audience. Saat seorang karyawan bercerita tentang pekerjaannya, audience bisa melihat sisi yang selama ini tidak terlihat dari luar. Dari situlah connection mulai terbentuk secara natural.
Konten Anak Kantor yang Sering Viral Itu Sebenarnya EGC
Lucunya, banyak orang sebenarnya sudah sering melihat EGC tanpa sadar. Konten seperti “POV kerja di startup“, “Day in My Life sebagai Social Media Specialist”, “Tim Finance vs Tim Marketing”, atau “Siapa yang paling sering telat di kantor?” sebenarnya termasuk bentuk EGC yang paling sederhana.
Kenapa konten seperti ini sering ramai? Jawabannya karena terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Audience nggak merasa sedang melihat iklan. Mereka merasa sedang melihat cerita orang lain yang mungkin pernah mereka alami juga. Ketika seseorang merasa relate, mereka biasanya akan berhenti scrolling, menonton lebih lama, bahkan ikut berkomentar.
Yang menarik, konten seperti ini sering kali dibuat dengan produksi yang sederhana. Nggak perlu kamera mahal, nggak perlu script yang rumit, bahkan kadang direkam hanya menggunakan smartphone. Tapi justru karena kesederhanaannya itulah konten terasa lebih autentik.

Kenapa Audience Lebih Connect dengan EGC?
EGC Bukan Cuma Buat Viral
Banyak brand mulai melirik EGC karena melihat performanya yang bagus di media sosial. Padahal manfaat terbesar EGC sebenarnya bukan di angka views atau likes, melainkan pada persepsi yang terbentuk di benak audience.
Bayangkan ketika seseorang berkali-kali melihat karyawan sebuah perusahaan berbagi cerita, menunjukkan suasana kerja yang positif, atau membagikan pengalaman mereka selama bekerja. Lama-kelamaan akan muncul persepsi seperti:
“Kayaknya perusahaan ini seru ya.”
“Timnya kelihatan solid.”
“Orang-orangnya asik.”
“Brand ini terasa lebih manusiawi.”
Persepsi seperti ini sangat sulit dibangun hanya melalui iklan atau campaign biasa. Karena itulah banyak perusahaan besar mulai menjadikan EGC sebagai bagian dari strategi komunikasi mereka, bukan sekadar tren konten sesaat.
Format EGC yang Paling Mudah Dicoba
Kalau perusahaan baru mulai menerapkan EGC, sebenarnya nggak perlu langsung membuat konsep yang rumit. Justru format yang sederhana sering kali lebih efektif karena terasa lebih natural.
Salah satu yang paling populer adalah Day in My Life, yaitu konten yang memperlihatkan aktivitas sehari-hari seorang karyawan. Format ini sederhana, tapi mampu memberikan gambaran nyata tentang budaya kerja dan suasana perusahaan.
Selain itu ada juga format Behind The Scene, yang menunjukkan proses di balik sebuah project, event, atau aktivitas kantor. Audience biasanya suka melihat sesuatu yang sebelumnya tidak bisa mereka lihat dari luar.
Format lain yang cukup menarik adalah storytelling karier, di mana karyawan membagikan perjalanan mereka, tantangan yang pernah dihadapi, atau pelajaran yang didapat selama bekerja. Konten seperti ini tidak hanya membangun connection, tapi juga memberikan value bagi audience.
Kalau ingin yang lebih ringan, brand juga bisa mencoba challenge antar tim atau konten receh anak kantor yang sedang tren. Selama masih relevan dengan karakter perusahaan, format seperti ini bisa membantu meningkatkan engagement secara organik.
Kenapa EGC Bisa Membantu Employer Branding?
Salah satu manfaat EGC yang sering terlupakan adalah dampaknya terhadap employer branding. Banyak perusahaan fokus menggunakan konten untuk menarik customer, padahal konten juga bisa digunakan untuk menarik talenta terbaik.
Saat seseorang sedang mencari tempat kerja, mereka tidak hanya melihat website perusahaan atau lowongan pekerjaan. Mereka juga mencari gambaran tentang budaya kerja, lingkungan tim, dan seperti apa kehidupan di dalam perusahaan tersebut.
Di sinilah EGC punya peran yang sangat besar.
Ketika calon kandidat melihat karyawan yang terlihat nyaman, berkembang, dan menikmati pekerjaannya, mereka akan lebih mudah membayangkan diri mereka bekerja di tempat yang sama. EGC membantu menciptakan gambaran yang jauh lebih nyata dibanding sekadar tulisan “lingkungan kerja yang positif” di halaman karier perusahaan.
EGC dan AI: Kombinasi yang Semakin Kuat
Perkembangan AI membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih cepat, termasuk untuk EGC. Tapi perlu dipahami, AI seharusnya membantu mempercepat proses, bukan menggantikan sisi manusia dari konten tersebut.
Saat ini AI bisa membantu mencari ide konten, membuat variasi caption, merangkum insight dari video, sampai membantu menganalisis performa konten yang sudah dipublikasikan. Hal-hal yang sebelumnya memakan waktu cukup lama sekarang bisa dilakukan dengan lebih efisien.
Namun satu hal yang tidak bisa digantikan AI adalah pengalaman manusia. Audience mengikuti EGC bukan karena kualitas editannya, tapi karena mereka ingin melihat cerita nyata dari orang yang nyata. Itulah kenapa keseimbangan antara AI dan sisi human tetap menjadi kunci.
Kesalahan yang Sering Membuat EGC Gagal
Meskipun terlihat sederhana, EGC tetap membutuhkan pendekatan yang tepat. Salah satu kesalahan paling umum adalah ketika perusahaan terlalu banyak mengontrol konten yang dibuat karyawan.
Semakin banyak aturan yang diberikan, biasanya semakin hilang juga rasa natural dari konten tersebut. Akibatnya, EGC yang seharusnya terasa personal justru berubah menjadi konten corporate biasa.
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah membuat semua konten terlihat terlalu sempurna. Padahal audience sekarang lebih menyukai sesuatu yang autentik dibanding sesuatu yang terlalu dipoles.
Selain itu, banyak perusahaan hanya mencoba EGC sekali atau dua kali lalu berhenti ketika hasilnya belum langsung terlihat. Padahal seperti strategi konten lainnya, EGC membutuhkan konsistensi agar dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang.
Saatnya Upgrade Strategi Digital Marketing Kamu
Kalau selama ini brand terasa terlalu formal atau sulit membangun kedekatan dengan audience, mungkin masalahnya bukan karena kurang konten. Bisa jadi karena kontennya belum cukup menunjukkan sisi manusia yang ada di balik brand tersebut.
Di sinilah EGC bisa menjadi salah satu solusi yang paling relevan untuk kondisi digital marketing saat ini. Bukan karena EGC adalah tren baru, tetapi karena audience memang semakin menghargai transparansi, kejujuran, dan koneksi yang lebih personal.
Melalui Corporate Training Digital Marketing by Effion Creator School, perusahaan dapat mempelajari bagaimana membangun strategi konten yang lebih human melalui EGC, UGC, AI, Content Marketing, dan Social Media Marketing yang sesuai dengan perilaku konsumen saat ini. Pendekatannya tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik yang bisa langsung diterapkan sesuai kebutuhan bisnis dan industri.
Brand yang Terasa Manusia Akan Lebih Mudah Diingat
Di tengah ribuan konten yang muncul setiap hari, menjadi sempurna bukan lagi jaminan untuk menarik perhatian audience. Justru brand yang berani menunjukkan sisi manusianya sering kali lebih mudah diingat dan lebih mudah dipercaya.
EGC membantu brand membuka sisi yang selama ini jarang terlihat. Bukan sisi yang dibuat khusus untuk campaign, tetapi sisi yang memang terjadi setiap hari di dalam perusahaan. Dan sering kali, cerita sederhana dari orang-orang biasa justru mampu menciptakan koneksi yang jauh lebih kuat dibanding iklan yang mahal sekalipun.
Karena pada akhirnya, orang tidak membangun hubungan dengan logo. Mereka membangun hubungan dengan manusia yang ada di balik logo tersebut.
Sekarang coba lihat konten brand kamu. Kalau nama perusahaan dan logonya dihilangkan, apakah audience masih bisa merasakan ada manusia di baliknya?
Baca Juga :
Stop Jalankan Content Marketing Kalau Masih Fokus ke Angka Ini
Apakah AI Akan Menggantikan Digital Marketer di Perusahaan?
Pelatihan Content Creator: Digital Talent Scholarship Komdigi x Effion Creator School















Comments