Branding dan Brand Awareness hampir selalu disebut barengan, tapi lucunya… justru dua hal ini yang paling sering disalahpahami, terutama di era digital. Banyak brand, UMKM, bahkan perusahaan besar ngerasa sudah “branding”, padahal yang dikejar cuma angka reach. Ada juga yang bangga brand-nya dikenal banyak orang, tapi begitu ditanya “sebenarnya brand kamu itu tentang apa?” jawabannya malah muter-muter.

Branding dan Brand Awareness: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Penting?
Di titik inilah masalah sering dimulai. Branding dan brand awareness saling berkaitan, tapi bukan hal yang sama. Kesadaran merek memang bagian dari proses branding, tapi branding sendiri jauh lebih luas dari sekadar dikenal banyak orang. Kalau sejak awal salah fokus, strategi digital marketing bisa jalan, tapi dampak bisnisnya nggak terasa.
Artikel ini akan membahas dengan bahasa santai tapi tajam: apa bedanya keduanya, kenapa sama-sama penting, dan kenapa banyak brand gagal karena salah prioritas.
Kenapa Banyak yang Ketuker Fokusnya?
Di era media sosial, hampir semua brand bisa terlihat ramai. View tinggi, followers naik, konten viral. Dari situ muncul asumsi sederhana yaitu
“Kalau banyak yang kenal, berarti brand gue udah kuat.”
Padahal belum tentu.
Branding berbicara soal identitas dan makna, sementara brand awareness hanya soal seberapa dikenal. Masalahnya, banyak brand mengejar dikenal dulu tanpa tahu ingin dikenal sebagai apa.
Akibatnya sering seperti ini:
-
Nama brand muncul di mana-mana, tapi cepat dilupakan
-
Konten viral, tapi nggak berpengaruh ke penjualan
-
Audiens datang, tapi nggak pernah jadi loyal
Ini bukan salah platform, tapi salah pemahaman sejak awal.
Branding Itu Fondasi, Brand Awareness Itu Dampak
Hubungan keduanya sebenarnya sederhana. Branding adalah fondasi, sementara awareness adalah hasil dari fondasi itu.
Kalau dianalogikan:
-
Branding itu kepribadian seseorang
-
Awareness itu seberapa banyak orang mengenalnya
Percuma dikenal luas kalau kepribadiannya nggak jelas. Orang mungkin ingat namanya, tapi nggak ingat kesannya.
Branding mencakup:
- Nilai brand
- Karakter komunikasi
- Posisi di benak audiens
- Janji yang ditawarkan ke pelanggan
Sedangkan Brand Awareness adalah:
- Seberapa sering brand muncul
- Seberapa mudah brand dikenali
- Seberapa cepat brand diingat
Tanpa branding yang kuat, brand awareness cuma numpang lewat.

Branding: Bukan Cuma Logo dan Warna
Branding Bukan Cuma Logo dan Warna
Branding dan Brand Awareness sering rusak sejak tahap ini. Banyak yang mengira branding selesai begitu logo jadi, warna dipilih, dan feed Instagram rapi.
Padahal branding itu menjawab pertanyaan yang jauh lebih dalam:
- Brand ini berdiri buat siapa?
- Masalah apa yang dia selesaikan?
- Sikap brand ini ke audiens seperti apa?
- Mau diingat sebagai brand yang bagaimana?
Branding adalah cara brand berpikir, berbicara, dan bersikap, baik di konten, pelayanan, maupun produk. Kalau branding belum jelas, brand awareness justru bisa jadi bumerang. Brand dikenal luas, tapi citranya ngawur dan nggak konsisten.
Brand Awareness: Penting, Tapi Nggak Bisa Berdiri Sendiri
Branding dan Brand Awareness sering dipertentangkan, padahal harusnya saling menguatkan. Brand Awareness itu penting karena tanpa dikenal, branding nggak punya panggung.
Tapi masalah muncul ketika:
- Semua strategi cuma fokus ke reach
- Konten dibuat asal viral
- Pesan brand berubah-ubah
Brand Awareness tanpa branding itu kayak teriak di keramaian tapi nggak tau mau bilang apa. Ramai, tapi nggak meninggalkan kesan.
Brand Awareness yang sehat harus:
- Menguatkan pesan branding
- Konsisten dengan identitas brand
- Membawa audiens ke pemahaman, bukan cuma exposure
Godaan Angka di Era Digital
Branding dan Brand Awareness makin sering disalahpahami karena metrik digital. Like, view, share, impression—semuanya kelihatan instan dan bikin candu.
Masalahnya, angka tinggi nggak selalu berarti brand kuat.
Banyak brand:
- Viral sekali, lalu hilang
- Dikenal luas, tapi nggak dipercaya
- Sering muncul, tapi nggak relevan
Branding itu bekerja di level persepsi, bukan cuma statistik. Brand Awareness seharusnya jadi pintu masuk ke kepercayaan, bukan tujuan akhir.
Branding yang Lemah = Brand Awareness yang Kosong
Branding dan Brand Awareness saling mempengaruhi. Branding yang lemah bikin brand awareness jadi hampa.
Ciri-ciri branding lemah tapi awareness tinggi:
- Audiens kenal, tapi nggak paham value
- Konten ramai, tapi engagement dangkal
- Nama brand diingat, tapi nggak dipilih
Sebaliknya, branding yang kuat walau awareness belum besar biasanya punya:
- Audiens yang loyal
- Komunikasi yang konsisten
- Pertumbuhan yang lebih stabil
Urutan yang Seharusnya: Branding Dulu, Baru Awareness
Idealnya, prosesnya tidak dibalik. Bangun identitas dulu, baru dorong pengenalan.
Langkah sederhananya:
-
Tentukan positioning brand
-
Tetapkan karakter dan tone komunikasi
-
Susun pesan utama
-
Distribusikan lewat konten dan campaign
Tanpa urutan ini, awareness hanya menambah kebisingan digital.
Peran Konten dalam Membangun Persepsi
Branding dan Brand Awareness paling kelihatan dampaknya di konten. Konten bukan cuma alat jualan, tapi media membangun persepsi.
Konten yang fokus branding biasanya:
- Konsisten secara visual dan bahasa
- Punya sudut pandang jelas
- Mengedukasi atau membangun emosi
Sedangkan konten yang cuma kejar awareness sering:
- Ikut tren tanpa filter
- Ganti-ganti gaya
- Viral tapi nggak relevan
Konten ideal adalah konten yang meningkatkan brand awareness sekaligus memperkuat branding.
Tantangan di Dalam Tim
Masalah sering muncul bukan karena strategi salah, tapi karena tim tidak satu pemahaman.
Yang sering terjadi:
-
Marketing fokus angka
-
Kreator fokus viral
-
Owner fokus visi, tapi tidak tersampaikan
Akhirnya, branding dan awareness berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang sama.
Branding dan Brand Awareness Butuh Skill, Bukan Insting
Branding dan Brand Awareness bukan soal feeling semata. Di era digital, dua hal ini butuh pemahaman strategi, data, dan eksekusi yang rapi.
Tanpa skill yang tepat:
- Branding jadi terlalu idealis
- Brand Awareness jadi terlalu dangkal
Di sinilah pentingnya upgrade skill tim, bukan cuma nambah

Corporate Training Content Creator by Effion Creator School
Corporate Training by Effion Creator School
Branding dan Brand Awareness akan jauh lebih efektif kalau seluruh tim punya pemahaman yang sama. Melalui Corporate Training by Effion Creator School, perusahaan dibantu untuk:
- Memahami perbedaan branding dan brand awareness
- Menyusun strategi branding yang relevan
- Mengintegrasikan brand awareness ke konten digital
- Menyatukan visi branding lintas divisi
Pendekatannya praktis, aplikatif, dan relevan dengan tantangan digital hari ini.
👉 Pelajari program lengkapnya di sini:
https://effioncreatorschool.com/creator-corporate/
Mana yang Harus Didahulukan?
Branding dan Brand Awareness bukan soal pilih salah satu. Tapi urutannya penting.
- Branding = siapa kamu
- Brand Awareness = seberapa banyak orang tau kamu
Kalau siapa kamu aja belum jelas, dikenal luas justru berbahaya.
Branding yang Kuat Bikin Brand Awareness Lebih Bermakna
Branding dan Brand Awareness idealnya tumbuh barengan, tapi branding harus jadi kompas. Dengan branding yang kuat:
- Brand Awareness lebih terarah
- Konten lebih konsisten
- Audiens lebih loyal
Brand nggak cuma dikenal, tapi dipercaya.
Kesimpulan yang Sering Terlewat
Branding dan Brand Awareness sering disalahpahami karena hasil instannya beda. Brand Awareness kelihatan cepat, branding terasa pelan. Tapi justru branding yang menentukan umur panjang brand.
Brand Awareness itu penting, tapi branding adalah nyawanya.
Brand Awareness adalah bagian dari branding, bukan penggantinya.
Di era digital yang super bising, brand yang bertahan bukan yang paling sering muncul, tapi yang paling jelas identitasnya dan paling konsisten pesannya.
Dan di situlah branding dan brand awareness akhirnya ketemu di satu titik:
brand yang diingat, dipahami, dan dipilih.
















Comments